Masjid Menara Kudus, Simbol Perdamaian Antar Umat Beragama

Menara Suci adalah bangunan arkeologis dan historis tinggi. Laporan dari Islamic-center.or.id, di dalam masjid terdapat kolam berbentuk padasan yang diyakini telah ada sejak zaman kuno.

Masih harus dilihat apakah kolam tersebut adalah peninggalan zaman Hindu atau sengaja dibuat oleh Sunan Kudus untuk mengadopsi budaya Hindu.

Masjid Menara Kudus, Bukti Budidaya Budaya Hindu dan Islam  Menara Suci adalah bangunan arkeologis dan historis tinggi. Laporan dari Islamic-center.or.id, di dalam masjid terdapat kolam berbentuk padasan yang diyakini telah ada sejak zaman kuno. Masih harus dilihat apakah kolam tersebut adalah peninggalan zaman Hindu atau sengaja dibuat oleh Sunan Kudus untuk mengadopsi budaya Hindu.  Karena terletak di pusat kota Kudus, hanya 5 menit dari alun-alun kota Kudus, masjid ini dikelilingi oleh populasi perumahan yang agak padat. Dengan demikian, keindahan kompleks bangunan Masjid Menara Kudus berkurang, yang sekarang terdaftar sebagai salah satu warisan budaya.  Masjid Menara Kudus sekarang berdiri di atas lahan seluas 7,505 meter persegi. Menara ini tidak terlibat dalam renovasi masjid sekitar abad ke-20 atau pada tahun 1918.  Acara ini juga akan ditutup dengan Menara Internasional Bersholawat, yang akan membawa Grup Hadrah Ar-Ridlwan al-Marashli keluar dari Mesir. Grup Hadrah Timur Tengah akan bekerja sama dengan seniman Rebana Ahbabul Musthofa Kudus. Arsitek mengadopsi budaya Hindu sehingga kedatangan Islam dapat dengan mudah diterima. Namun, jika diputuskan untuk menghapusnya, pertama-tama akan bernegosiasi dengan penasihat masjid.  Selain itu, jumlah pengemis di sekitar masjid juga dapat mengganggu pengunjung yang datang. Untuk dilestarikan, tata ruang ruang di sekitar masjid perlu ditingkatkan untuk menjaga kesan indah dan unik Masjid Menara Menara. Masjid Menara Kudus terdiri dari 5 pintu di kanan dan 5 pintu di kiri. Pintu besar terdiri dari 5 bagian dan ada 8 tiang besar di masjid yang terbuat dari kayu jati. Namun, masjid ini tidak sesuai dengan aslinya, lebih besar dari sebelumnya karena telah direnovasi pada tahun 1918.  Terutama saat menyambut bulan suci Ramadhan, makam itu dipenuhi dengan peziarah hampir setiap hari. Penyebaran Islam di Jawa dilakukan oleh para pedagang yang dipimpin oleh Maulana Maghribi, lebih dikenal sebagai Maulana Malik Ibrahim. Dia tidak menyebarkan Islam sendirian, tetapi bersama dengan orang lain atau yang biasa disebut Wali Songo.  Dan bahkan sekarang di wilayah Kudus, khususnya Kudus Kulon, menyembelih sapi sampai sekarang dilarang untuk menghormati Hindu. Pendirian Masjid Menara Kudus tidak terlepas dari peran Sunan Kudus sebagai penggagas dan pendiri.  Di dalamnya ada pemandian masjid, kolam dalam bentuk "padasan" adalah sisa zaman kuno dan digunakan sebagai binatu. Masih menjadi pertanyaan sejauh ini, apakah kolam tersebut merupakan peninggalan dari era Hindu atau sengaja dibuat oleh Sunan Kudus untuk mengambil alih budaya Hindu. Di dalam masjid ada 2 bendera, yang terletak di kiri dan kanan di mana pengkhotbah membaca khotbah.  Dalam khotbah, Sunan Kudus lebih menekankan pada kearifan lokal dengan menghargai budaya lokal dan berusaha beradaptasi dengan masa kejayaan Buddha Hindu. Karakteristik ini adalah keunikan Masjid Menara Kudus. Menara ini memiliki struktur bata merah yang terlihat seperti bangunan candi khas di Jawa Timur. Beberapa bahkan menyebut menara ini mirip dengan Bale Kulkul atau bangunan penyimpanan Kentongan di Bali. Perayaan Masjid Al-Aqsa hadir untuk mengkonfirmasi kebijaksanaan Menara Suci untuk perdamaian multi-etnis, multi-agama dengan kebijaksanaan masing-masing.  Selain menara yang menjadi pusat perhatian, masjid ini memiliki karakter unik lainnya. Ini berbeda dengan menara masjid suci yang memiliki menara untuk sisi kanan. Menara ini terbuat dari batu bata merah yang dibuat menggunakan teknik kosodik. Di sampingnya ada dekorasi yang terbuat dari keramik Cina. Ada juga kamar di atas menara yang bisa dinaiki melalui tangga.  Seperti Walisongo lainnya, Sunan Kudus menggunakan pendekatan budaya untuk berkhotbah. Dia mengadaptasi ajaran Islam dan menjadikannya asli bagi masyarakat yang sudah memiliki budaya yang mapan di bawah pengaruh Hindu dan Budha.

Karena terletak di pusat kota Kudus, hanya 5 menit dari alun-alun kota Kudus, masjid ini dikelilingi oleh populasi perumahan yang agak padat. Dengan demikian, keindahan kompleks bangunan Masjid Menara Kudus berkurang, yang sekarang terdaftar sebagai salah satu warisan budaya.

Baca Juga: Keunikan Masjid Di Kota Tangerang

Masjid Menara Kudus sekarang berdiri di atas lahan seluas 7,505 meter persegi. Menara ini tidak terlibat dalam renovasi masjid sekitar abad ke-20 atau pada tahun 1918.

Acara ini juga akan ditutup dengan Menara Internasional Bersholawat, yang akan membawa Grup Hadrah Ar-Ridlwan al-Marashli keluar dari Mesir.

Grup Hadrah Timur Tengah akan bekerja sama dengan seniman Rebana Ahbabul Musthofa Kudus. Arsitek mengadopsi budaya Hindu sehingga kedatangan Islam dapat dengan mudah diterima. Namun, jika diputuskan untuk menghapusnya, pertama-tama akan bernegosiasi dengan penasihat masjid.

Selain itu, jumlah pengemis di sekitar masjid juga dapat mengganggu pengunjung yang datang. Untuk dilestarikan, tata ruang ruang di sekitar masjid perlu ditingkatkan untuk menjaga kesan indah dan unik Masjid Menara Menara.

Masjid Menara Kudus terdiri dari 5 pintu di kanan dan 5 pintu di kiri. Pintu besar terdiri dari 5 bagian dan ada 8 tiang besar di masjid yang terbuat dari kayu jati. Namun, masjid ini tidak sesuai dengan aslinya, lebih besar dari sebelumnya karena telah direnovasi pada tahun 1918.

Terutama saat menyambut bulan suci Ramadhan, makam itu dipenuhi dengan peziarah hampir setiap hari. Penyebaran Islam di Jawa dilakukan oleh para pedagang yang dipimpin oleh Maulana Maghribi, lebih dikenal sebagai Maulana Malik Ibrahim. Dia tidak menyebarkan Islam sendirian, tetapi bersama dengan orang lain atau yang biasa disebut Wali Songo.

Dan bahkan sekarang di wilayah Kudus, khususnya Kudus Kulon, menyembelih sapi sampai sekarang dilarang untuk menghormati Hindu. Pendirian Masjid Menara Kudus tidak terlepas dari peran Sunan Kudus sebagai penggagas dan pendiri.

Di dalamnya ada pemandian masjid, kolam dalam bentuk “padasan” adalah sisa zaman kuno dan digunakan sebagai binatu. Masih menjadi pertanyaan sejauh ini, apakah kolam tersebut merupakan peninggalan dari era Hindu atau sengaja dibuat oleh Sunan Kudus untuk mengambil alih budaya Hindu. Di dalam masjid ada 2 bendera, yang terletak di kiri dan kanan di mana pengkhotbah membaca khotbah.

Dalam khotbah, Sunan Kudus lebih menekankan pada kearifan lokal dengan menghargai budaya lokal dan berusaha beradaptasi dengan masa kejayaan Buddha Hindu.

Karakteristik ini adalah keunikan Masjid Menara Kudus. Menara ini memiliki struktur bata merah yang terlihat seperti bangunan candi khas di Jawa Timur. Beberapa bahkan menyebut menara ini mirip dengan Bale Kulkul atau bangunan penyimpanan Kentongan di Bali.

Perayaan Masjid Al-Aqsa hadir untuk mengkonfirmasi kebijaksanaan Menara Suci untuk perdamaian multi-etnis, multi-agama dengan kebijaksanaan masing-masing.

Selain menara yang menjadi pusat perhatian, masjid ini memiliki karakter unik lainnya. Ini berbeda dengan menara masjid suci yang memiliki menara untuk sisi kanan.

Menara ini terbuat dari batu bata merah yang dibuat menggunakan teknik kosodik. Di sampingnya ada dekorasi yang terbuat dari keramik Cina. Ada juga kamar di atas menara yang bisa dinaiki melalui tangga.

Seperti Walisongo lainnya, Sunan Kudus menggunakan pendekatan budaya untuk berkhotbah. Dia mengadaptasi ajaran Islam dan menjadikannya asli bagi masyarakat yang sudah memiliki budaya yang mapan di bawah pengaruh Hindu dan Budha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *